Seekor oarfish berukuran sekitar 4 meter ditemukan dalam kondisi mati dan terdampar pada Selasa, 25 Agustus 2026 di Pantai Pink 3, Desa Sekaroh, Lombok Timur.
Oarfish dikenal sebagai ikan laut dalam yang jarang terlihat di permukaan. Setiap kali ikan ini muncul, kemunculannya kerap dikaitkan dengan bencana alam seperti gempa bumi.
Yang bikin ceritanya semakin menarik, kemunculan oarfish di Lombok ini terjadi hanya beberapa hari setelah rangkaian gempa besar mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur.
Kebetulan semata atau emang ada sesuatu yang terjadi di bawah laut?
Cocoklogi Orafish Lombok & Gempa Flores
Mari kita susun kronologinya.
Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT. Gempa dangkal tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan sempat memicu peringatan dini tsunami. Setelah gempa utama, ribuan gempa susulan masih tercatat di wilayah tersebut.
Lalu pada 25 Agustus, sekitar 10 hari kemudian, oarfish sepanjang kurang lebih 4 meter ditemukan terdampar di Pantai Pink 3, Lombok Timur.
Lima hari sebelumnya yakni pada 20 Agustus, BMKG juga mencatat gempa magnitudo 5,4 di Manggarai Timur yang disebut sebagai bagian dari rangkaian gempa susulan Flores M7,7. Hingga tanggal tersebut, BMKG telah mencatat ribuan aktivitas gempa susulan.
Wajar kalau kemudian muncul pertanyaan, jangan-jangan ikan ini memang merasakan sesuatu dari dasar laut?
Oarfish Muncul Sebelum atau Setelah Gempa, Kok Bisa Pas Banget?
Kalau kasus Lombok tadi terasa terlalu kebetulan, ternyata ada beberapa kejadian lain di berbagai belahan dunia yang bikin mitos soal oarfish semakin dipercaya.
1. Jepang
Salah satu yang paling sering dibahas terjadi di Jepang. Sebelum gempa dan tsunami Tohoku 2011, sejumlah ikan laut dalam dilaporkan muncul di perairan dangkal.
Kemunculan ikan-ikan tersebut kemudian dikaitkan dengan gempa dahsyat yang mencapai magnitudo 9,0.
Jauh sebelum itu, masyarakat Jepang memang sudah memiliki cerita rakyat yang menganggap oarfish sebagai pembawa pesan dari dewa laut. Ketika ikan ini muncul ke permukaan, sebagian orang menganggapnya sebagai pertanda akan terjadi gempa besar.
2. Filipina
Pada 8 Agustus, dua ekor oarfish sepanjang sekitar 3,7 dan 4,3 meter ditemukan terdampar di sebuah pantai. Sehari setelahnya, gempa magnitudo 6,6 mengguncang Luzon.
Sekilas, timing-nya memang bikin merinding.
Tapi ternyata lokasi oarfish tersebut berada lebih dari 800 mil dari pusat gempa. Jadi, hubungan antara kedua kejadian itu semakin sulit dijelaskan sebagai sinyal dari aktivitas gempa.
3. California
Kejadian serupa kembali terjadi di Amerika Serikat. Pada 10 Agustus 2024, seekor oarfish sepanjang sekitar 3,7 meter ditemukan terdampar di dekat San Diego, California. Dua hari kemudian, gempa magnitudo 4,4 mengguncang wilayah Los Angeles.
Kalau cuma melihat tanggal, cocokloginya memang sulit diabaikan. Oarfish muncul, dua hari kemudian gempa.
Namun para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography menilai kedua kejadian tersebut kemungkinan besar tidak berhubungan. Mereka juga merujuk pada penelitian sebelumnya yang tidak menemukan bukti kuat bahwa oarfish dapat digunakan untuk memprediksi gempa.
4. Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan
Selain di Lombok, Indonesia juga pernah dibuat heboh oleh kemunculan oarfish. Pada Desember 2019, seekor oarfish ditemukan di perairan dangkal Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Foto dan kabar kemunculannya kemudian beredar di media sosial dan dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya gempa besar serta tsunami. BMKG langsung membantah anggapan tersebut.
Menurut BMKG, kemunculan ikan laut dalam di perairan dangkal tidak bisa dijadikan tanda bahwa gempa akan segera terjadi. Ada sejumlah kemungkinan lain, seperti fenomena upwelling, perubahan arus laut, atau kondisi ikan yang sedang sakit maupun sekarat.
Jadi kalau semua kejadian tadi disusun dalam satu tabel, memang kelihatannya seperti ada polanya.
Penelitian Justru Membantah Oarfish sebagai Penanda Gempa
Pada 2019, peneliti menganalisis catatan kemunculan ikan laut dalam dan gempa bumi di Jepang. Mereka mengumpulkan 336 laporan kemunculan ikan laut dalam dan 221 kejadian gempa.
Hasilnya?
Hanya satu kejadian yang dianggap memiliki korelasi yang masuk akal. Hasil tersebut tidak cukup untuk membuktikan bahwa kemunculan oarfish bisa digunakan sebagai tanda akan datangnya gempa.
Bahkan penelitian tersebut menyimpulkan bahwa fenomena ini tidak berguna sebagai metode mitigasi bencana.
Artinya, kalau setiap oarfish muncul lalu kita menunggu gempa besar, kita berisiko melihat pola yang sebenarnya tidak ada.
Ini yang disebut illusory correlation, ketika dua kejadian yang kebetulan berdekatan terasa memiliki hubungan karena otak kita memang senang mencari pola.
Lalu, Bagaimana dengan Oarfish di Pantai Pink Lombok?
Nah, sekarang kembali ke kasus yang sedang ramai. Apakah kemunculan oarfish di Pantai Pink 3 ada kaitannya dengan gempa M7,7 Flores?
Secara waktu, memang menarik. Secara ilmiah, belum ada bukti yang menunjukkan keduanya berhubungan.
Badan Riset dan Inovasi Daerah NTB menyebut terdamparnya oarfish merupakan fenomena alamiah. Salah satu kemungkinan yang dijelaskan adalah kondisi fisik ikan, termasuk sakit, cedera, atau usia yang membuat kemampuan berenangnya menurun.
Jadi, belum tepat kalau kemunculan ikan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa akan terjadi gempa besar berikutnya.
Apalagi BMKG sendiri masih memantau rangkaian gempa susulan Flores dan meminta masyarakat tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Kalau ingin mengetahui potensi gempa, jauh lebih aman mengikuti informasi resmi BMKG daripada menunggu ikan laut dalam muncul ke pantai.