Pulau Jeju selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi paling indah di Korea Selatan. Pantai, gunung berapi, perkebunan, dan jalanan yang tenang membuat pulau ini menjadi tempat favorit wisatawan dari berbagai negara.
Namun, beberapa hari terakhir, wajah Jeju mendadak berubah di mata publik Korea Selatan.
Bukan karena bencana alam atau konflik besar. Ketakutan muncul setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dunia dalam rentang waktu tiga hari.
Bersamaan dengan itu, publik dibuat geram oleh dugaan kelalaian polisi dalam menangani sejumlah laporan orang hilang. Kasus ini bahkan berkembang menjadi skandal nasional.
Berawal dari Hilangnya Seorang Perempuan Selama 104 Hari
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah hilangnya Jang Mi-ran, perempuan berusia 37 tahun yang dilaporkan menghilang pada Mei 2026.
Laporan kehilangan sebenarnya sudah diterima polisi. Namun, kasus tersebut diduga ditutup hanya beberapa jam kemudian.
Petugas yang menangani kasus itu disebut memberi tahu pasangan Jang bahwa dirinya telah berhasil menghubungi perempuan tersebut. Menurut keterangan yang diberikan petugas, Jang dalam keadaan aman dan tidak ingin keberadaannya diketahui.
Masalahnya, penyelidikan berikutnya menemukan dugaan bahwa komunikasi tersebut tidak pernah terjadi.
Kecurigaan semakin besar setelah Jang Mi-ran ditemukan meninggal dunia 104 hari setelah terakhir kali dilaporkan hilang. Lokasi penemuannya bahkan tidak berada jauh dari tempat terakhir ia tinggal.
Temuan ini memicu pertanyaan besar. Jika laporan kehilangan tidak ditutup sejak awal, apakah pencarian bisa dilakukan lebih cepat?
Empat Orang Ditemukan Meninggal dalam Tiga Hari
Kasus Jang ternyata bukan satu-satunya yang mengguncang Jeju.
Empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam kurun waktu tiga hari. Kasus-kasus tersebut dilaporkan tidak saling berkaitan dan hingga kini tidak ada bukti bahwa seluruh kematian itu merupakan bagian dari satu rangkaian kejahatan.
Namun, waktu penemuan yang berdekatan membuat ketakutan menyebar dengan cepat.
Media sosial mulai dipenuhi berbagai spekulasi. Ada yang mempertanyakan keamanan Jeju, ada pula yang menghubungkan kasus-kasus tersebut dengan teori kriminal yang belum terbukti.
Di tengah derasnya rumor, fakta yang paling jelas justru mengarah kepada masalah lain, yaitu kegagalan sistem dalam menangani laporan orang hilang.
Seorang Polisi Menangani Hampir 300 Kasus
Skandal semakin besar ketika terungkap bahwa petugas yang menangani kasus Jang juga diduga menutup laporan kehilangan seorang pria berusia 60-an tanpa memastikan keberadaannya secara langsung.
Pria tersebut kemudian ditemukan meninggal setelah keluarganya kembali melaporkan dirinya hilang.
Petugas itu diketahui telah menangani 298 laporan orang hilang. Seluruh laporan yang pernah ditanganinya kini menjadi bagian dari pemeriksaan ulang.
Beberapa kasus bahkan sedang ditelusuri karena diduga memiliki pola penutupan yang tidak semestinya.
Petugas tersebut akhirnya ditahan atas dugaan kelalaian dalam menjalankan tugas serta pemalsuan catatan elektronik. Dalam pemeriksaan terbaru, ia juga dilaporkan mengakui sebagian kesalahan terkait penanganan kasus Jang Mi-ran.
Skandal ini langsung memukul kepercayaan publik terhadap kepolisian.
Kasus Jeju Membuka Masalah yang Lebih Besar
Apa yang terjadi di Jeju ternyata membuka persoalan yang jauh lebih luas.
Kepolisian Korea Selatan kemudian memutuskan untuk meninjau sekitar 310.000 kasus orang hilang yang telah ditutup dalam tiga tahun terakhir. Kasus-kasus yang dianggap berpotensi ditutup tanpa prosedur yang memadai akan diperiksa kembali.
Langkah ini menunjukkan bahwa masalahnya tidak lagi terbatas pada satu pulau atau satu petugas.
Kasus orang hilang memang memiliki persoalan tersendiri di Korea Selatan, terutama ketika orang yang dilaporkan hilang merupakan orang dewasa. Tidak semua kasus secara otomatis mendapatkan prosedur pencarian intensif seperti kasus anak-anak atau kelompok rentan.
Celah inilah yang kini mendapat sorotan besar setelah tragedi di Jeju.
Image Jeju yang Mendadak Terasa Berbeda
Bagi banyak orang, yang membuat kasus Jeju terasa mengerikan bukan hanya kematian empat orang tersebut.
Ada pertanyaan yang menjadi tanda tanya besar. Berapa banyak orang yang sebenarnya pernah dilaporkan hilang, tetapi pencariannya berhenti terlalu cepat?
Pertanyaan itulah yang kini membuat skandal di Pulau Jeju berubah dari sekadar kasus lokal menjadi perhatian nasional Korea Selatan.