Ada momen-momen tertentu dalam sejarah digital Indonesia yang rasanya sulit dilupakan. Kita pernah melihat kasus Vina kembali meledak setelah publik mengulik ulang duduk perkaranya. Kita juga pernah menyaksikan bagaimana sebuah tragedi bisa membentuk solidaritas nasional dalam hitungan jam.
Awal 2023, nama Cristalino David Ozora memenuhi ruang digital Indonesia. Ia bukan selebritas, bukan tokoh publik melainkan sekadar remaja biasa yang hidupnya berubah drastis dalam satu malam.
Pada 20 Februari 2023, David dianiaya secara brutal oleh Mario Dandy Satriyo, anak seorang pejabat tinggi Ditjen Pajak. Kronologi yang diungkap Tempo menguraikan bagaimana Mario, dipengaruhi informasi dari lingkaran pergaulannya, memprovokasi, menjemput David, lalu menganiayanya dengan cara yang tak manusiawi.
David Ozora koma setelah dipaksa push-up, dipukul, ditendang berkali-kali sampai mengalami cedera otak serius (Diffuse Axonal Injury stage 2). Sementara itu, Shane Lukas, temannya Mario, merekam seluruh kejadian dengan ponsel.
Akibatnya, jaksa menuntut Mario Dandy Satriyo dengan hukuman 12 tahun penjara dan restitusi sebesar Rp120 miliar untuk keluarga David.
Kisah David Ozora Diangkat ke Layar Lebar


Dua tahun setelah tragedi itu mengguncang Indonesia, film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel resmi tayang di bioskop pada 4 Desember 2025 yang lalu.
Disutradarai oleh Anggy Umbara dan Bounty Umbara, film ini merupakan interpretasi emosional dan spiritual dari pengalaman keluarga Ozora.
Anggy Umbara menegaskan bahwa film ini “bukan sekadar mengangkat kasus viral, tapi mengajak publik melihat luka terdalam seorang ayah ketika harapan hidup anaknya hampir hilang.”
Dalam film itu, Chicco Jerikho memerankan Jonathan, ayah David, Muzakki Ramdhan memerankan David Ozora, serta Erdin Werdrayana memerankan Dennis, pelaku penganiayaan versi film.
Kisah diperluas menjadi perjalanan psikologis, spiritual, dan pergulatan terhadap sistem hukum yang dianggap tidak bersih. Narasinya tidak terpaku pada kekerasannya, tetapi pada perjuangan, kesedihan, dan keteguhan hati sebuah keluarga.
Bukan Pertama Kalinya Anggy Umbara Mengangkat Kisah Viral
Menariknya, ini bukan debut Anggy Umbara dalam mengangkat tragedi yang pernah mengguncang publik. Dunia sinema sebelumnya menyaksikan bagaimana kasus Vina kembali viral setelah tim Jejak Backpacker mengulik ulang data dan kontradiksi kasus tersebut setelah menyaksikan tayangan Vina di bioskop.
Kini, kisah David Ozora diangkat dengan pendekatan berbeda, lebih intim, lebih personal, dan lebih menggugah.
Tak heran ketika tim Jejak Backpacker diundang ke gala premiere film ini, atmosfernya terasa seperti menonton sejarah yang selama ini hanya kita lihat melalui layar ponsel yang kini disajikan lewat sinema dan memberi ruang empati lebih besar.
Kisah David Ozora menjadi pengingat keras bahwa bullying bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan kekerasan yang bisa merenggut masa depan seseorang.
Tragedi ini juga menunjukkan bagaimana kekuasaan yang salah arah mampu menghancurkan hidup orang lain, sementara ketidakadilan hukum meninggalkan trauma panjang bagi korban dan keluarganya.
Di sisi lain, kasus ini membuktikan bahwa solidaritas publik memiliki kekuatan besar ketika masyarakat memilih untuk bersuara. Film Ozora hadir bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk memastikan luka itu tidak dilupakan, agar tragedi serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.